Coretan kecil

Jadikan lebih baik

Jawaban Tentang Ayah

Ditulis oleh lianatown di/pada September 26, 2008

“Assalamualaikum, Nek….nek..”teriakku, tapi tetap tak terdengar jawaban dari dalam rumah, ku langsung nyelonong masuk, ku buka kamarku tetapi tak kutemukan nenekku “ihh….nenek kemana sih, Firda kangen nih” ucapku sekali lagi berharap nenek keluar setelah mendengar celoteh manjaku, maklum sudah seminggu ini aku tak pulang karena menginap di kontrakan teman untuk mengerjakan bab terakhir skripsiku….lumayan jauh juga kalo harus bolak-balik dari rumah ke kampus hanya untuk revisi – revisi doang makanya aku pilih nginep sementara di kontrakan Sita yang kebetulan dekat kampus.

Bau masakan mbok Parmi, membuyarkan konsentrasiku yang mencari nenek , kuhampiri segera wanita paruh baya yang sudah puluhan tahun bekerja untuk nenekku itu. “Assalamualaikum mbok”sapaku dari belakang “serius amat masaknya, mbok sampai-sampai Firda masuk aja ga ada yang tahu” lanjutku “Waalaikum salam Neng cantik, iya nih mbok lagi nyiapkan makanan untuk buka puasa nanti” jawab mbok Parmi dengan logat jawanya yang kental “mmm…nenek mana sih mbok? dari tadi Firda salam dan panggil koq ga di jawab” tanyaku sedikit agak kesal “sst…mbok lihat tadi nenek masuk ke kamar alm. Ibu neng Firda” jawab mbok Parmi berhati-hati berharap nenek tidak mendengar percakapan kami. ”kelihatannya nenek sedih, neng”lanjut mbok Parmi “sedih…pasti ingat – ingat ibu lagi, ya udah biar Firda samperin, kangen nih sudah seminggu ga ketemu” ucapku lirih sambil kulangkahkan kakiku menuju kamar ibu, walaupun kamar itu sudah tidak ditempati, nenek tetap merapikan kamar ibu, ku ketuk pintu itu perlahan “ Assalamualaikum” “Waalaikumsalam” terdengar suara nenek yang agak berat sepertinya habis menangis, ku cium tangan dan kedua pipi wanita yang masih terlihat sehat diusianya yang beranjak senja itu “kapan datang, dari tadi kah?,nenek kangen”ucap nenek “sama nek. Firda juga, Nenek sedih ingat ibu lagi ya? Tebakku. Diikuti anggukan kecil dari nenek. Ditatapnya wajahku dalam-dalam, tak terasa butir-butir air mata membasahi kerudung hitam miliknya. “Kamu sudah besar sayang, mirip benar dengan ibumu”, ucap nenek. “Masa iya sih nek, cantik mana?”, sambungku berharap nenek tak larut dalam kesedihannya. Dengan senyum simpul nenek tak menjawab pertanyaan nakalku, hanya belaian lembut yang mendarat di kepalaku. “Tiap bulan Ramadhan tiba, nenek ingat almarhummah nak…. Allah menjemputnya saat masih sangat muda, tapi mungkin ini sudah takdirNya. Ibumu wanita yang cantik, cerdas dan sholehah sama sepertimu, sayang nasib baik tak berpihak padanya…..kamu tahu Fir, kenapa ibumu memberi nama Aisyah Amali Firdausyi”, Tanya nenek. Aku menggeleng seakan memberi kesempatan nenek bercerita lebih panjang. “Ibumu berharap kelak kamu tumbuh menjadi gadis yang cantik secantik Aisyah ra dan selalu beramal sholeh, yang mana dengan amal-amal itu bisa mengantarkanmu ke surga FirdausNya.

Dan nenek melihat sepertinya do’a ibumu dikabulkan Allah, apalagi kau nampak lebih cantik dengan kerudung lebarmu itu” komentar nenek yang membuat memerahnya wajahku karena tersipu malu. Maklum semenjak semester V bangku kuliah aku mulai tertarik untuk mengkaji islam. dan lambat laun penampilan tomboy dan cuek ku terkikis juga sikapku mulai lembut dan pakaian jadi lebih syar’ie dengan jilbab( pakaian longgar yang menyerupai terowongan yang menutupi seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan) dan kerudung lebar tentunya. “ehmm…kalo ayah nek..? apakah seorang yang soleh seperti yang aku bayangkan? , betapa beruntungnya beliau mendapatkan istri yang cantik lagi sholeha seperti ibu”tanyaku …”oh ya bersihkan badanmu dulu gih..! bau , sudah berapa lama tidak mandi, trus kamu istirahatsambil nunggu buka puasa, kebetulan mbok parmi masak makanan kesukaanmu”ucap nenek seraya berlalu pergi seolah mengalihkan perhatian pertanyaanku. “selalu, kalau kutanyakan sesuatu tentang ayah ada saja alasan untuk mengelak” ucapku dalam hati seraya meninggalkan kamar ibu dengan senyum kekecewaan.

***

Tit..tit..tit sebuah pesan baru diterima Ass. bawa biodata lengkap dan pas photo anti di rapat besok siang, jzkllh. Wslm, pesan dari mbak Salma.

Angin bertiup semilir seakan menghapus sedikit hawa panas kota, nampak beberapa akhwat rapat di belakang masjid Al-Qubro “ya semoga Allah memberi kelancaran dan kemudahan agenda kita besok di SMU Harapan, dan mampu menjadikan adek – adek disana berubah jadi lebih baik selepas ramadhan nanti, saya akhiri rapat kali ini Wassalamualaikum warohmatulloh wabarokatuh”seru mbak slma mengakhiri rapat. Semua beranjak meninggalkan Al-Qubro, kecuali aku dan mbak Salma “emm… dek, ga lupa kan bawa biodata?”Tanya mbak Salma “alhamdulillah ga mbak, oh ya kalo boleh tahu untuk apa ya mbak?”tanyaku sambil mengeluarkan biodata dari dalam tasku. “maaf berapa usia anti sekarang?tanyanya sekali lagi “insyaAllah th ini 25 th” jawabku singkat “wah sudah siap nikah tuh”komentarnya. Aku mulai menangkap arah pembicaraan mbak Salma, dan maksud beliau menyuruhku membawa biodata plus pas photo aku mengangguk – angguk tanda paham “gini dek, ada seorang ikhwan yang ingin bertaaruf dengan anti, kebetulan beliau alumni kampus ini juga” jelas mbak Salma “ Siapa?”Tanyaku “ini biodatanya, bukanya dirumah saja ya!”pintanya “pertimbangkan baik – baik ya dek!tambahnya.

Sesampainya di rumah dengan mengucap Bissmilahirohmanirrohim ku buka amplop coklat sederhana, hanya selembar kertas namanya Faisal Abidin,ST, “nama yang indah” bisikku dalam hati, sejenak kuperhatikan foto yanga ada dihadapanku, ya..ya..ya..wajahnya tak asing lagi bagiku, dia seniorku di kampus yang sama, sempat menjabat sebagai ketua SKI th 2006. kalau yang ini kredibilitasnya tidak perlu di ragukan lagi, pikirku saat itu, setelah 3 hari mempertimbangkan dan meminta petunjuk kepada Allah akhirnya ku hubungi mbak Salma dan ku nyatakan aku mau bertaaruf dengannya. Singkat nya proses taaruf kami berjalan singkat hanya 5 hari dan beliau langsung memutuskan mengkhitbahku, setelah kulalui proses isthikaroh dan keyakinan dalam diri yang mantap aku menerima khitbahnya.

“Nek..ada sesuatu yang Firda mau bicarakan, penting!”kataku “ada apa kok tumben-tumbennya,sayang”jawab nenek “ gini nek, mmm…ada seseorang yang berniat menikahi Firda” ucapku malu – malu “ lho kok..tiba-tiba sekali, Fir, yang mana orangnya? tanya nenek terkaget – kaget, setelah kuceritakan dengan sejelas-jelasnya alhamdulillah nenek bisa tersenyum dam memahaminya“ Ok. Kalau dia berniat sungguh-sungguh menikah denganmu suruh dia datang besok jam 9 pagi dengan kedua orang tuanya, nenek percaya dengan pilihanmu” nenek mengakhiri pembicaranya dengan sebuah kecupan sayang di keningku

Singkatnya pagi itu mas faisal dan kedua orang tuanya menemui nenek dan di sepakati pernikahan akan dilaksanakan sesudah hari raya.

Takbir berkumandang di setiap corong masjid, anak-anak TPA mulai berkumpul membawa obor bersiap-siap melakukan takbiran keliling kampung mengagungkan asma Allah.

Sementara itu.. ”Fir, sini ada sesuatu yang harus nenek sampaikan …., ini merupakan saat yang tepat nenek menyampaikan pesan dari ibumu sebelum meninggal dunia. Kotak ini nenek berikan kepadamu menjelang seminggu hari pernikahanmu”, ucap nenek. Sebuah kotak mungil dihiasi ukiran kayu Jepara yang indah. Kubuka perlahan ada sebuah liontin indah bertuliskan lafadz ”Allah”, indah sekali. Di dalam kotak itu juga kutemukan sebuah kertas usang yang sudah tersimpan selama 20 tahun lamanya. Kubaca dalam hati tulisan yang ada di dalamnya.

********************************************************************************************************************

Surabaya, 27 September 1987

Assalamualaikum Wr. Wb.

Teruntuk Ananda Firdaus yang ibu kasihi,

Nak, ketika engkau membaca tulisan ini mungkin kau sudah dewasa….. pasti kau tumbuh menjadi gadis yang cantik dan sholehah dan memang ibu berpesan kepada nenekmu agar kotak surat ini disampaikan saat kau akan menikah. Oh ya, maaf ibu tidak bisa memberikan sesuatu yang lebih di hari pernikahanmu nanti, hanya liontin ini saja yang bisa ibu berikan, kecil memang tapi ibu memberikan dengan tulus ikhlas dan cinta kasih yang teramat dalam … Aisyah Amali Firdausy … mungkin ananda sering bertanya kepada nenek perihal ayah. Apakah ayah masih hidup atau sudah meninggal? Memang ibu minta kepada nenek untuk tidak menceritakan hal itu sebelum kamu siap mendengarnya … sungguh tidak patut diceritakan. Sampai ibu menulis surat ini pun ibu tidak pernah mengetahui keadaan ayahmu, nak…..

Malam itu banyak pekerjaan yang harus ibu selesaikan hari itu juga, hasilnya ibu harus lenbur dan pulang malam ketika pulang dan melewati jalan sepi beberapa pemuda mengikuti ibu dari belakang dan … kejadian biadab itu terjadi … mereka memperkosa ibu, apa yang ada dalam benak mereka ketika mereka melakukan perbuatan itu. Ibu pingsan untuk beberapa saat dan tidak bisa menemukan mereka kembali, ibu pulang dengan trauma yang sangat hebat. Karena shock tersebut ibu tidak langsung melapor ke polisi … karena keterlambatan melapor tersebut polisi kehilangan jejak para pemuda biadab itu … sampai akhirnya sebulan setelah itu ibu terlambat bulan, sungguh di luar perkiraan, bingung … shock … tapi sebagai seorang yang masih punya iman ibu tetap harus menerima kehadiran jabang bayi yang ada dalam kandungan ibu, haram hukumnya kalau harus diaborsi… ibu bertekad akan melupakan hal yang menyakitkan tersebut dan akan merawat serta mendidik sang bayi ketika lahir nanti … ibu beruntung mempunyai ibu – nenekmu – yang bijaksana … Mungkin hanya ini hal penting yang perlu dan penting untuk diketahui olehmu. Semoga kamu apat mengerti kenapa nenek ibu larang menceritakan perihal ayahmu sebelum tiba saatnya kamu siap mendengar ceritanya . . .

Sekian surat ini, sekali lagi ibu harap kamu mengerti … ibu sayang Firda … do’a ibu semoga engkau bahagia.

Wassalamualaikum Wr Wb

Penuh Cinta

Ibumu

********************************************************************************************************************

Kututup surat ini dengan linangan air mata. Aku paham kenapa nenek selalu berusaha menghindar dan menutup-nutupi semua hal yang aku tanyakan terkait masalah ayah. Beliau tak ingin aku tumbuh minder kalau ternyata aku anak hasil perkosaan…

Ya Allah … betapa tegar dan mulia hati ibuku, tak bisa kubayangkan seandainya hal itu terjadi padaku… siapkah aku menghadapinya.

Di malam fitri ini akhirnya aku mendapatkan semua jawaban tentang ayah, tapi pantaskah aku menyebutnya dengan penggilan ayah. Do’a atau cerca yang harus aku panjatkan untuknya …..

Satu Tanggapan ke “Jawaban Tentang Ayah”

  1. Bocahkureng berkata

    Assalamualaykum

    Tulisannya kok sedih banget mbak. Tapi bagus kok. terus berkarya ya!!!

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>