Coretan kecil

Jadikan lebih baik

ASAPMU BUKAN UNTUKKU

Ditulis oleh lianatown di/pada September 26, 2008

“Masya Allah, panas banget” gumamku dalam hati. Kupercepat langkahku, berharap agar sampai di rumah dengan tepat waktu. Waktu puasa tahun ini barengan dengan musim kemarau, jadi bias dibayangkan gimana panasnya Surabaya ketika siang hari. “Jalannya cepetan dikit, dong Rin” kutarik tangan Ririn sahabatku yang terkenal lemah lembut dibandingkan denganku yang sedikit lebih cuek. “Aduh, aduh …. Sakit tau, sabar dong Cha” Ririn meringis kesakitan akibat aku menariknya terlalu kencang.

“Maaf …. maaf Rin, eh naik Lyn aja ya … gak kuat nih panasnya” sahutku dengan sesekali kuusap peluh yang menetes dari keningku, kurogoh saku seragamku. “Emm . . . cukup untuk berdua”. gumamku.

Untuk menuju ke rumah hanya bisa ditempuh dengan Lyn “R” saja dan itu pun harus menunggu penumpang penuh baru bisa berangkat.

“Ampun deh, daripada kepanasan di jalan mending nunggu dalam lyn.” Pikirku saat itu.

“Jreng …jreng … berjalan di lorong pertokoan di Surabaya yang panas” seorang pengamen memainkan bait-bait lagu yang menggambarkan betapa teriknya kotaku siang itu tapi …. “Eh, ga sopan amat nih pengamen sok ngerokok di depan penumpang yang pada puasa” kesalku dalam hati.

Diakhirinya lagu itu dengan menengadahkan gelas bekas air mineral. Simpatiku hilang sudah kumasukkan kembali uang recehan yang sejak tadi sudah kusiapkan. “enak saja, mending untuk buka puasa, paling juga buat beli rokok, ugh…” pikirku saat itu. Di antara 8 penumpang yang ada tidak ada satu pun yang memberi, mungkin karena sebel ditinggalkan asap rokok yang tadi dihisapnya dan dihembuskan ke dalam mobil angkot kami. “Ugh …ugh …ugh” spontan kami semua terbatuk-batuk dibuatnya. “Astaghfirullahal Adhim, kuatkanlah iman hamba ya Allah, jangan biarkan amarah ini mengurangi nilai puasa hamba hari ini” bisikku dalam hati.

“Berangkat, Bos” teriak makelar penumpang. Perlahan angkot ini meninggalkan terminal Jembatan Merah.. masih saja ada warung yang buka di siang hari meski bulan ini bulan puasa … ih sebel banget.

“Assalamualaikum …ma …ma … Icha pulang nih” teriakku langsung ngeloyor masuk menuju ruang tengah. Kujumpai mamaku tercinta tengah asyik membaca fiqih muslimah.

“Waalaikum salam, masih puasa khan saying?” tanyanya dengan memberikan tangannya untuk kucium.

“Alhamdulillah, Insya Allah masih kuat, Ma” jawabku sambil lepas kerudung.

“Emm.. Ma… Icha tinggal istirahat dulu ya, capek banget”

“Eh, sholat Dhuhur dulu, Cha!” perintah mama mengingatkan.

“Sudah tadi di sekolah”Sahutku sambil ,emitup pintu kamar.

oo0oo

Allahu Akbar … Allahu Akbar ……” Alhamdulillah waktu buka sudah tiba, terasa benar kebersamaan di keluarga kami kalau bulan puasa tiba, ayah pulang lebih awal karena tak ingin melewatkan buka puasa bersama aku dan mama di rumah … selesai tarawih.

“Emmm….Ma, ayah keluar sebentar” pamit ayah.

“Kemana Yah, sudah malam lho” sahut mama.

“Beli rokok … pahit mulut ayah seharian tadi ga ngerokok”

Kudengarkan percakapan mereka berdua, kubuka catatan buku tugasku, tadi pagi Pak Togar guru bahasa Indonesiaku menyuruh masing-masing anak membuat karya ilmiah. Satu hal yang menarik, Pak Togar memberikan reward berupa buku Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, “Wih jadi semangat nulis nih …kusiapkan pencil plus kertas” pikirku terhenti sejenak.

“Nulis tentang apa ya …?” pikiranku menerawang berharap dapat menemukan ide.

“Assalamualaikum.” salam ayah membuyarkan lamunanku. Beliau duduk, dikeluarkannya bungkus rokok yang ada di saku celananya. Dinikmatinya sebatang bersama segelas kopi panas di meja ….. “Ehm …. Nikmat” kata ayah.

“Ih … ayah, asap rokoknya tuh ganggu konsentrasi Icha cari ide nih” kataku setengah sewot.

“Kamu cha, kalau ga bisa …. ya ga bisa, ga usah nyalahin asap rokok ayah donk” sahutnya sambil tetap melanjutkan menyedot rokoknya.

“Yah, mungkin Icha ada benarnya, mulailah dikurangi sedikit demi sedikit kebiasaan lama ayah itu,” “Ingat Yah, ayah akan merasakan efeknya nanti kalau sudah tua” kata mama.

“Ah… Ma kalau itu dipikirnya nanti saja” jawab ayah.

oo0oo

“Gimana sudah ada yang selesai karya ilmiahnya?” kata Pak Togar mengingatkan dengan logat bataknya yang khas, “Jangan anggap remeh dengan tugas ini, saya minta semua mengerjakan dengan maksimal, ingat itu!” Tambahnya.

“Sudah saya akhiri saja pelajaran hari ini dan Selamat Siang!” katanya mengakhiri pelajarannya.

Gaduh di sana-sini sellau mengisi kelas kami saat akan ganti mata pelajaran jam menunjukkan pukul 11.00, kukeluarkan buku agama sebagai mata pelajaran terakhir hari ini. Mataku menjelajah ruang kelas mencari Ratih, salah satu teman akrabku tapi … aku tak menemukannya.

“Assalamualaikumn wr wb, Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun telah meninggal dunia tadi pagi, ayahanda dari Ratih Ekawati kelas XI-C semoga amal baiknya dicatat di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, diharapkan masing-masing kelas mengirimkan wakilnya untuk berta’ziyah, demikian pemberitahuan kami, wassalamualaikum Wr. Wb. “ sebuah kabar duka dari speaker yang dipasang di masing-masing kelas itu sejenak membuat ruang kelasku yang tadinya gaduh menjadi senyap. Asrul sang ketua kelas langsung maju mengambil alih kepemimpinan.

“Teman-teman, sebagai bentuk solidaritas kita untuk Ratih, sisihkan uang saku kalian untuk dapat diberikan kepada keluarga almarhum, bagi teman-teman yang ikut ta’ziyah monggo, sepulang sekolah kita bareng-barang ke sana” jelas Asrul seolah memberi komando.

Pulang sekolah tiap-tiap kelas mengirimkan wakilnya, rombongan kelasku paling banyak karena Ratih temen sekelas kami. Singkatnya sampai di rumah duka. Jenazah sudah dikebumikan, suasana haru masih melingkupi keluarga. Kupeluk ratih erat-erat, kuharap ia dapat tabah dengan cobaan ini.

“Apa bapak punya penyakit sebelum meninggal, Rat?” tanyaku ingin tahu.

“Entahlah cuma akhir-akhir ini sebelum meninggal beliau sering mengeluh sesak dan batuknya tak henti-henti, kadang-kadang malah mengeluarkan darah” jawab Ratih sambil sesekali menyeka air matanya.

“Sudah dibawa ke dokter?” tambah Asrul.

“Pernah ke Puskesmas, dokter hanya bilang agar bapak menghentikan kebiasaan merokoknya karena lama kelamaan akan mengganggu sistem kerja paru-parunya. Disarankan juga opname, tapi kalian tahu sendiri kondisi keluargaku, untuk makan saja kami harus susah payah mendapatkannya, dan Ratih juga ga tahu apa masih bisa melanjutkan sekolah lagi setelah ini … “cerita Ratih. Kami tertunduk haru, Ratih anak cerdas di kelas kami, adik-adiknya masih kecil-kecil. Kasihan Ratih, pasti ia dan ibunya yang akan menggantikan tugas ayahnya jadi tulang punggung keluarga.

Kulangkahkan kakiku pulang, sepanjang perjalanan. Aku berpikir ternyata efek rokok itu benar-benar fatal, apa yang membuat orang-orang itu termasuk ayahku masih menikmati barang itu sampai sekarang padahal pabrik pembuatnya pun sudah mengingatkan bahaya dari produk yang dihasilkan, masihkah akan muncul Ratih-Ratih lain yang harus putus sekolah, karena ayahnya meninggal akibat penyakit yang disebabkan rokok … “Em .. em … atau aku buat esai tentang bahaya rokok aja ah” pikirku tiba-tiba sekalian dari esai itu aku bisa sosialisasi dan kampanye remaja tanpa tembakau … sip sudah kutemukan ide tulisan, langkah kakiku mengarahkanku ke Warnet “Rizky” berharap ada beberapa data dan Infomart yang bisa mendukung tulisannya . . . buruanku terhenti di sebuah kolom yang ditulis seseorang dari Jawa Tengah. Sebuah hitung-hitungan sederhana tentang kebiasaan buruk penduduk muslim yang merokok ternyata membuang sia-sia 45 T setahun hanya untuk merokok…

Kalau kita hitung jumlah perokok umat Islam di Indonesia kalian pasti tercengang. Misal : penduduk Indonesia 210 juta, muslimnya 80% (170 juta) separuhnya pria (85 juta). Katakanlah wanita tak ada yang merokok dan pria perokok 30% dari 85 juta berarti ada 25 juta perokok muslim.

Seandainya setiap perokok menghabiskan 5000/bks/hari, maka jumlah dana yang dihabiskan untuk merokok adalah Rp.5.000,- x 25 juta = 125 miliar/hari = 3.750 miliar/bulan = 3,75 T/bulan = 45 T / tahun.

Bisa dibayangkan di tengah krisis multidimensi, tentang ekonomi, politik, moral, KKN merajalela, busung lapar, gizi buruk, jutaan anak putus sekolah, masih ada sebagian umat Islam yang dengan entengnya tidak ada sedikitpun rasa risau dan takut membakar kekayaan 45 T per tahun. Masya Allah angka yang fantastis kalau hanya untuk menjadi asap . .. padahal banyak sektor yang siap menerima alokasi dana sebesar itu.

Bagaimana mungkin umat Islam Indonesia jadi bangsa yang terhormat dan disegani dunia internasional jika meninggalkan kebiasaan buruk merokok saja tidak mampu …

Sip … data sudah dapat tinggal diolah. Kuteruskan buruanku tentang penyakit-penyakit yang disebabkan rokok. Wih, banyak banget. Kusimpan semua data dalam flashdiskku tinggal ngerjakan di rumah saja.

oo0oo

Semua berkumpul di ruang keluarga dengan aktivitasnya masing-masing. Mama membaca buku, aku asyik mengumpulkan gambar-gambar pendukung karya ilmiahku nanti, sedang ayah …biasa … merokok.

”Ngerjain apa Cha, serius amat” tanya ayah.

”Buat karya ilmiah tentang kebiasaan buruk ayah” sahutku.

”Kebiasaan buruk yang mana?” tanyanya lagi.

”Tuh, kebiasaan ngerokok, ini .. nih Icha punya data pendukung yang bisa membuat ayah terkaget-kaget” sambil kuserahkan data yang kuperoleh di internet tadi siang. Ayah manggut-manggut tanda mengerti.

”Gimana, Yah.. ?” tanyaku, tapi belum sampai dijawab pertanyaanku, aku mulai bercerita.

”Yah, tadi siang Icha ta’ziyah, ada salah satu teman kita yang ayahnya meninggal dunia, kasihan deh Yah, adik-adiknya masih kecil-kecil, kayaknya teman Icha tuh bakal ga ngelanjutin sekolahnya karena ga ada biaya, trus ayah tau penyebab yang membawa ayah Ratih pada kematian?”

”Apa . . . ?” tanya ayah penasaran.

”Rokok …., Ayah Ratih seorang perokok berat hampir tiap hari menghabiskan satu bungkus rokok . . . karena seringnya kebiasaan itu berlangsung, paru-paru ayah Ratih jadi bolong, itu dari segi kesehatan kalau dari segi ekonomi sebungkus rokok setiap hari dengan harga Rp. 5.000/bks sebulan Rp.150.000 setahun Rp. 1.800.000. angka yang besar yang dibakar sia-sia kan, Yah? Coba dimanfaatkan atau ditabung pasti Ratih tetep bisa melanjutkan sekolah.” seruku panjang lebar dan semangat memberi penjelasan.

”Iya . . . ya . . pintar sekali anak ayah, ternyata apa yang selama ini ayah lakukan hanya sia-sia belaka . . . tapi jangan hanya ayah saja dong yang disalahin, harusnya pemerintah tutup tuh pabrik rokok biar tidak ada yang produksi lagi. Kalau sudah gini kan ada yang ngerokok lagi…”

”Ya semoga, kita berdo’a saja ya Yah. . . ini Icha mau ajak kawan untuk berkampanye “Remaja bebas tembakau” agar generasi muda kita tidak pernah terjebak dalam hal yang sia-sia. Kan bisa tuh aktivitas kosong mereka digunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat, makanya Yah kenapa sih Icha getol banget gugat ayah untuk menghentikan kebiasaan buruh ayah, karena Icha sayang ayah, Icha tidak mau apa yang menimpa Ratih dan ayahnya menimpa ayah dan Icha juga” tak terasa airmataku menetes, ayah mengangguk dan mencium keningku seraya pergi meninggalkanku sendiri…

oo0oo

“Assalamualaikum, Ma . . .” sapa ayah sambil menghempaskan badannya di sofa ruang tamu.

“Wa’alaikum salam” jawab mama buru-buru mengambil tas yang dibawa ayah.

“Emm …kayaknya ayah harus menghentikan kebiasaanku merokok, Ma” kata ayah kepada mama yang duduk di sampingnya.

“Kemarin setelah mendapat penjelasan dari Icha dan tadi waktu ada pengajian di kantor, Pak Ustadz bilang betapa kita harus menjaga kesehatan organ tubuh kita, karena itu merupakan bentuk rasa syukur kita kepada Allah, dan ayah tidak mau disebut sebagai hamba yang tidak pandai bersyukur. Bantu ayah ya Ma . .. menghilangkan kebiasaan ini” kata ayah.

“Alhamdulillah . . . . iya Yah mama akan bantu.

4 Tanggapan ke “ASAPMU BUKAN UNTUKKU”

  1. Joko berkata

    Bagus mbak, terus menulis ya

  2. lianatown berkata

    tengkyu mas joko

  3. 83 berkata

    Merokok memang terbukti tidak menyehatkan,tapi kalo pabrik rokok ditutup banyak yang kehilangan pekerjaan + pajak untuk negara berkurang.enaknya gimana ya????

  4. lianatown berkata

    untuk mas 83 ato mbak 83 nih ya?

    aku g ngomong kalo merokok ntu g boleh loh ya. para ulama sendiri banyak yg cuma memakruhkan bahkan ada yg memubahkan. artinya lebih baik ditinggalin deh. palagi kalo badannya g kuat, wah bisa sakit tuh.

    mengenai pabrik rokok ditutup apa enggak itu sih urusan negara. kalo saya sih g bisa mas/mbak. jika negara ini mau masyarakatnya sehat tanpa hrs menambah penganguran dan mengurangi pendapatan negara dari pajak, ya harus mikir untuk menciptakan lapangan kerja baru dan sumber pendapatan baru. itu sih kalo pemerintah merasa bahwa sandang, papan, pangan, pendidikan dan kesehatan adalah kewajiban mereka untuk memenuhinya.

    Susahnya di negara ini pajak menjadi sumber pendapatan utama. menurut Bung Gusfahmi, S.E., M.A. dalam bukunya “Pajak menurut syariah” 78% pendapatan negara kita bersumber dari pajak. wow. Berbeda dengan negara dengan sistem islam, Pajak dibolehkan dalam Islam karena adanya kondisi tertentu dan juga syarat tertentu yaitu jika pendapatan dari pos lain tidak mencukupi. secara rinci bisa dibaca di buku Sistem Keuangan Negara Islam.

    Jadi, menurutku sih, negara jangan terlalu bergantung pd pajak dan mulai mengoptimalkan pos pendapatan yg lain. serta lebih care untuk memenuhi kebutuhan pokok (sandang, papan, pangan, kesehatan dan pendidikan) rakyatnya.

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>