“Masya Allah, panas banget” gumamku dalam hati. Kupercepat langkahku, berharap agar sampai di rumah dengan tepat waktu. Waktu puasa tahun ini barengan dengan musim kemarau, jadi bias dibayangkan gimana panasnya Surabaya ketika siang hari. “Jalannya cepetan dikit, dong Rin” kutarik tangan Ririn sahabatku yang terkenal lemah lembut dibandingkan denganku yang sedikit lebih cuek. “Aduh, aduh …. Sakit tau, sabar dong Cha” Ririn meringis kesakitan akibat aku menariknya terlalu kencang.
“Maaf …. maaf Rin, eh naik Lyn aja ya … gak kuat nih panasnya” sahutku dengan sesekali kuusap peluh yang menetes dari keningku, kurogoh saku seragamku. “Emm . . . cukup untuk berdua”. gumamku.
Untuk menuju ke rumah hanya bisa ditempuh dengan Lyn “R” saja dan itu pun harus menunggu penumpang penuh baru bisa berangkat.
“Ampun deh, daripada kepanasan di jalan mending nunggu dalam lyn.” Pikirku saat itu.
“Jreng …jreng … berjalan di lorong pertokoan di Surabaya yang panas” seorang pengamen memainkan bait-bait lagu yang menggambarkan betapa teriknya kotaku siang itu tapi …. “Eh, ga sopan amat nih pengamen sok ngerokok di depan penumpang yang pada puasa” kesalku dalam hati. Baca entri selengkapnya »